Langitku Berubah Oranye
Oleh: Ika Fitria
Raya dan Shena pasangan sejoli yang genap 10 tahun mereka berpacaran sebentar lagi berbahagia, aku turut bahagia pula. Meski sedikit rasa yaa menyesakkan dada. Dadaku sesak, liurku selalu kutelan tiap melihat status di antaranya muncul ke permukaan deretan status di WhatsAppku. Tidak mau aku mendapati setiap update an terbarunya, buru-buru aku mute saja.
Menyedihkan sekali rasanya, entah sejak kapan aku senang misuh diam-diam seperti ini. Tak pernah memang kutunjukan dengan siapa pun bahkan dengan sahabatku sendiri, tapi untuk kupendam pun rasanya aku tak sanggup. Bukan, bukan karena aku cemburu akan Raya. Ia memang pernah memiliki masa lalu denganku, tapi bukan itu masalahnya.
Raya pernah mengutarakan bahwa Ia suka padaku, aku tak menolak tapi juga tak menerimanya begitu saja. Toh dulu kita juga masih sekolah, fokus saja pada masa-sama indah menjalin banyak pertemanan bukan untuk pacaran. Itu prinsipku. Apalah yang dimaksud prinsip bila kita tidak berusaha, ya jadilah aku dekat dengannya. Tapi meski baru berkenalan dan berteman dekat, 5 menit aku tak balas SMSnya dia sudah curigaan. Mana mungkin aku mau.
Lupakan tentang Raya, kita anggap saja itu tak lebih dari apa-apa. Kenapa sih kamu Tisaaaa, hobi barumu overthinking ya sekarang? Udah doong tubuh dan pikiranmu ini sudah lelah kau ajak kerja keras terus menerus demi cita-citamu. Ini kamu mau mewujudkan cita-cita berupa apa sampai overthinking dengan hubungan orang lain.
Ya, benar begitu. Aku cemburu karena hubungan mereka yang kulihat nampak sempurna. Sedikit goresan langsung dapat dipoles hingga tak terlihat sedikit pun luka. Bahkan nampak tidak berbekas. Shena cantik, banyak sekali laki-laki lain yang mengantre untuk mendapati dia. Namun lagi-lagi Ia tetapkan hatinya pada Raya. Shena maupun Raya sangatlah beruntung, mereka sangat sempurna. Tak terkira bagaimana keturunannya nanti.
Tolong nyatakan bahwa aku tak sendirian merasakan hal ini, kamu pun sama kan? Maafkan aku ya Raya dan Shena, aku Tisa Kusumawidya Rahman hanya berusaha menyatakan perasaan dalam kegalauan. Mungkin aku begini karena kesendirian yang teramat lama hingga akhirnya aku merasa kesepian. Menyedihkan memang, entah aku yang terlalu pemilih atau semesta memintaku untuk bersabar lebih lama. Selayaknya memang aku harus berbahagia atas kebahagiaan yang dirasakan teman-teman dekatku. Sekarang aku begini mungkin benar untuk mempersiapkan diri bila Shena memintaku untuk jadi bridesmaid pernikahannya nanti. Aku yang harus siap dengan telinga dan hati berkulit tebal dengan pertanyaan-pertanyaan orang lain mengapa sampai 10 tahun ini juga aku masih sendiri.
Semakin dewasa, urusan semakin pelik. Rasanya aku takut untuk bertambah usia, bukan lagi bahagia karena akan mendapatkan banyak hadiah dari Raya dan Shena. Aku semakin sangat merasa kehilangan mereka berdua, temanku satu-satunya. Saat ini izinkan aku untuk mengasihani diriku yang memang pantas dikasihani. Setidaknya aku berharap tak hadir menemai Shena sendiri saat pernikahannya nanti.
