Monday, October 11, 2021

Perubahan Itu Suatu Keniscayaan


Oleh: Ika Fitria

Waktu masih sekolah, senangnya menebak-nebak masa depan akan menjadi apa ya, bakal gimana ya, seru deh bisa jalan-jalan kesana sini, makan ini dan itu pakai uang sendiri. 

=.=

Hari itu pun tiba, kehidupan berubah di mana aku yang sudah bekerja dipaksa mulai mandiri, belajar manajemen keuangan, waktu, emosi sendiri sesekali memang dipandu, dibantu oleh orang-orang tersayang di sekitar, termasuk mama.

=.=

Lama kelamaan, waktu demi waktu terus berjalan. Aneh ketika mendengar ada teman yang sudah dilamar kekasih hatinya. Aneh ketika melihat teman yang umurnya masih terpaut muda, sama denganku sedang mengandung. Aneh ketika teman yang seumuranku sudah kesana kemari membawa buah hatinya. 

=.=

Waktu yang terus berjalan memang nggak pernah bisa toleransi, berjalan pelan saja tidak apalagi berhenti sejenak bahkan memutarnya ke belakang hanya untuk sebentar saja. Waktu tidak sebaik itu. Ia hanya bisa mengingatkan untuk berusaha maksimal, memberi terbaik selagi masih ada waktu. Pada akhirnya, pikiran dan bayangan dulu tentang masa depan yang menyenangkan nggak semudah seperti yang dibayangkan. Jalannya terjal, menyakitkan, membuat kelelahan baru bisa dapat yang dimau. Teman-temanku berubah, cita-citaku terus berubah-ubah, hingga tujuanku juga seringnya berubah. Keegoisanku tentang dunia semakin memudar, mengingat bahwa waktu tak lagi bisa diputar. Keserakahanku tentang dunia akhirnya tenggelam perlahan, karena tau ada dunia lain yang lebih panjang waktunya dan tak ada ampun sama sekali setelah dunia yang sekarang aku pijaki. 

=.=

Waktu demi waktu, hal-hal menyenangkan itu berubah. Berubah menjadi ketegangan, kehati-hatian, dan berubah kehidupan. Teman yang awalnya masih sama-sama senang main dan bercerita sudah punya penggantinya. Pendengar yang setia sudah beralih menjadi pendengar manusia lainnya.


Perubahan adalah keniscayaan, aku tau dan sadar betul. Terlebih semakin dewasa tujuan kita hanya satu sebenarnya. Apapun yang dilakukan di dunia harus betul-betul atas ridhaNya. Sebesar apa pun pencapaian jika Allah nggak ridha nggak akan ada artinya sama sekali. Kita semakin sadar bahwa banyak hal yang kebalikan. Yang kita anggap menyenangkan, bisa jadi bukan hal yang baik. Yang kita anggap membosankan, menyebalkan, melelahkan, bisa jadi hal yang terbaik yang Allah sukai. 

Ingat kisah kak Laisa di novel Tere Liye berjudul Bidadari-Bidadari Surga. Beliau yang selalu sabar dan penuh rasa syukur atas apa yang dipunya, dan ridha atas segala pemberian sehingga Allah juga ridha akan kematiannya. Iri sekali rasanya.

No comments:

Post a Comment